By : Tiada Aku
Teringat ketika tuan guru berkata :
“Anakku..
cukup bagimu mengenalku lalu jagalah hati-mu selalu”
Inilah hal yang menyatakan
“MARTABAT HATI” Hati itu ada 2 bahagian :
– Hati sanubari – Hati nuraniHati
Sanubari adalah segumpal darah yang terhantar antara lambung kiri di dalam dada
manusia.Hati Nurani adalah hati cahaya yang menjadi khalifa Allah memerintah
tubuh manusia ‘Amma Mubiina’ artinya RAJA.
Mim, awal jadi raja di dunia
Ha, memberi rahmat bagi segala umat
Mim, akhir jadi raja di akhirat
Dal, jadi raja dunia dan akhirat
Mim, awal jadi raja di dunia
Ha, memberi rahmat bagi segala umat
Mim, akhir jadi raja di akhirat
Dal, jadi raja dunia dan akhirat
Hati Nurani adalah mahligai Allah
Ta’ala, tempat tajjali Allah Ta’ala, ‘Murathal Haq’ artinya Cermin Al-Haq
karena nyata Haq Ta’ala padanya, disebut juga ‘Iradatul wujud’ atau kehendak
yang ada karena tidak ada sesuatu yang luput dari padanya.
Hati Nurani ini amat besar lagi Latif, halus, menerima tajjali Dzat, tajjali Sifat, tajjali Af’al.
Hati ini memakai pakaian Sifat Allah yang tujuh yaitu : Kudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama, Bashar dan Kalam.
Hati Nurani ini amat besar lagi Latif, halus, menerima tajjali Dzat, tajjali Sifat, tajjali Af’al.
Hati ini memakai pakaian Sifat Allah yang tujuh yaitu : Kudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama, Bashar dan Kalam.
Hati Nurani kenyataan dari pada Dzat Allah Ta’ala, menyatakan keadaan yang Kuasa, tiada diatas, tiada dibawah, tiada dikanan, tiada dikiri, tiada di hadapan, tiada dibelakang, sunyi daripada enam jihat itu.
Bukan hati yang berdarah dan berdaging, hanya kenyataan Hati Nurani jualah maka nyatalah pendengaran telinga, penglihatan mata dan segala keadaan tubuh yang kasar ini daripada hati nurani itu jua.
Inilah yang diperujud oleh sekalian yang maujud, baik yang besar maupun yang kecil.
Lidah itu juru bahasa hati, hati itu
juru bahasa Hidayah dan hidayah itu dari pada cahaya yang Qadim.
Hidayah datang dari sifat yang tujuh yang nyata kepada hati nurani, Nur itu gaib dan Tuhanpun gaib adanya.
Hidayah datang dari sifat yang tujuh yang nyata kepada hati nurani, Nur itu gaib dan Tuhanpun gaib adanya.
Melihat Allah nyata dengan nyataNya,
Bermula tiap-tiap mata melihat dan hati nyata dengan Rupa yang LAISA KAMISLIHI SYAIUN.
Bermula tiap-tiap mata melihat dan hati nyata dengan Rupa yang LAISA KAMISLIHI SYAIUN.
Bila Matahari ibarat Dzat Allah
Ta’ala maka Bulan itu ibarat Sirr Allah yakni Cahaya Muhammad Rasulullah SAW,
maka tempat mengenal Dzat Allah melalui cahaya yaitu Hati Nurani.
Berbahagialah bagi yang mengenal dan
menjaga Hati Nuraninya yaitu dirinya dan Tuhannya, janganlah engkau kembali
sebelum mengenal dirimu dan Tuhanmu.
Akhirul kalam
‘WAMIN ANFUSIKUM AFALA TUFSIRUN’
Di dalam diri kamu jua AKU.
‘WAMIN ANFUSIKUM AFALA TUFSIRUN’
Di dalam diri kamu jua AKU.