بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Bismillahirrahmanirrahim.
Setelah Berberapa Lama vacum, dan sekarang Update pos Lagi dikarenakan Kesibukan yang bisa dikatakan menyita banyak waktu.
Melalui Pos Kali Ini Admin Menyampaikan Mohon Maaf yang sebesar besarnya, dan semoga Pos kali ini bisa menjadi Penyambung Silaturahmi kita.
Oke... Langsung Saja Tanpa Banyak Cakap... Cekidot..
Mengontrol
Diri
Hidup
Mungkin Membuat Kita TERPURUK,
Tapi kita Bisa memilih Untuk KEMBALI BANGKIT atau TIDAK
Tapi kita Bisa memilih Untuk KEMBALI BANGKIT atau TIDAK
Yang
Pasti Kita Juga Harus Memanfaatkan waktu kita Untuk Masa Depan..!
Karena: waktu yg dimiliki oleh setiap orang itu SAMA: 24 jam sehar terdiri dara 1440 menit atau 86.000 detik, tak lebih, tak kurang!
Karena: waktu yg dimiliki oleh setiap orang itu SAMA: 24 jam sehar terdiri dara 1440 menit atau 86.000 detik, tak lebih, tak kurang!
Tapi,
cara memberdayakan tiap detik bisa membedakan tiap orang, menjadi sukses &
terhormat atau sekadar hidup tak bermakna.
Maka, mari kita manfaatkan setiap detik waktu yg kita miliki… agar hidup ini menjadi jauh lebih bermakna, baik bagi diri kita sendiri, maupun orang2 di sekitar kita.
Maka, mari kita manfaatkan setiap detik waktu yg kita miliki… agar hidup ini menjadi jauh lebih bermakna, baik bagi diri kita sendiri, maupun orang2 di sekitar kita.
Mengontrol
diri merupakan pengendalian diri terhadap pikiran, ucapan, dan perbuatan yang
dilakukan, sehingga mendorong pada penghindaran diri terhadap hal-hal yang
tidak baik dan peningkatan perbuatan yang baik dan benar.
Mengontrol
diri juga menuju pada konsistensi dan keselarasan pikiran, ucapan dan perbuatan
sehingga apa yang dipikirkan sama dan sejalan dengan apa yang diucapkan dan
diperbuat.
Sebelum
bisa memiliki pikiran-ucapan-perbuatan baik, terlebih dahulu seseorang harus
memiliki pemahaman dan pengertian yang benar.
Urutan
yang benar adalah :
Pemahaman/pengertian
benar ==> pikiran benar ==> ucapan
benar ==>perbuatan benar.
Akan tetapi walaupun punya pemahaman terhadap kebaikan dan ketidakbaikan, belum tentu pikiran seseorang mampu diarahkan terus-menerus terhadap kebaikan. Dan walaupun seandainya pikiran seseorang sudah didominasi oleh kebaikan, belum menjamin bahwa ucapannya selalu sejalan dengan pikiran baik ini. Demikian pula tidak ada garansi bahwa perbuatannya secara fisik merefleksikan sepenuhnya pikiran yang baik ini.
Akan tetapi walaupun punya pemahaman terhadap kebaikan dan ketidakbaikan, belum tentu pikiran seseorang mampu diarahkan terus-menerus terhadap kebaikan. Dan walaupun seandainya pikiran seseorang sudah didominasi oleh kebaikan, belum menjamin bahwa ucapannya selalu sejalan dengan pikiran baik ini. Demikian pula tidak ada garansi bahwa perbuatannya secara fisik merefleksikan sepenuhnya pikiran yang baik ini.
Sebagai contoh, apapun latar belakang, umur, jenis kelamin, pendidikan, suku dan lain sebagainya, umumnya kita setuju bahwa olah raga dengan frekuensi dan dosis yang tepat, dapat menjaga kebugaran, daya tahan dan kesehatan seseorang. Pemahaman ini menuntun pada pikiran yang baik bahwa olah raga penting bagi kesehatan.
Pemahaman dan pikiran tentang kebaikan olah raga ini lebih mudah sejalan dengan ucapan. Sewaktu menasihati orang lain, dengan mudah kita menjelaskan pentingnya berolah raga secara teratur. Akan tetapi sewaktu harus praktek langsung, banyak di antara kita akan memunculkan berbagai alasan untuk mendukung dan memberikan pembenaran mengapa diri kita sendiri jarang atau bahkan tidak sama sekali berolah raga. Mulai dari alasan sibuk bekerja, waktunya belum tepat, tidak ada sarana, dan lain-lain.
Kunjungi Juga : Pentingkah Tariqah ?
Ini menjelaskan mengapa banyak orang yang tidak atau belum sukses padahal begitu banyak kiat, taktik, strategi, dan metode sukses diajarkan melalui buku, kaset, seminar dan lain-lain. Banyak di antara kita hafal di ‘luar kepala’ dan mampu dengan cepat menyebutkan persyaratan untuk bisa sukses, mulai dari berdisiplin tinggi, tepat waktu, punya integritas, jujur, fokus pada apa yang sedang dikerjakan, kerja sama team, bertanggung jawab, bekerja keras, tidak mudah putus asa, dan lain sebagainya.
Begitulah, banyak dari kita hanya bermain pada tataran pemahaman dan pikiran, atau paling jauh sampai level ucapan saja. Begitu harus diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari secara disiplin, kita memberikan banyak maaf kepada diri sendiri untuk menunda atau tidak melakukan berbagai kiat, taktik, strategi dan metode sukses tersebut.
Akhirnya sukses terlihat hanya menjadi hak orang lain dan bukan hak kita. Padahal kita sendirilah yang menentukan sukses tidaknya diri kita masing-masing karena setiap orang punya hak untuk sukses, Sebenarnya tanpa perlu menjalankan semua persyaratan sukses, masih terbuka lebar kesempatan meraih berbagai keberhasilan dalam hidup kita. Seringkali cukup dengan menjalankan secara disiplin dan konsisten beberapa poin saja di antaranya, maka kita akan menjadi insan-insan yang berbeda dan lebih baik dari mereka-mereka yang hanya berwacana di tataran pikiran dan ucapannya saja
Baca Juga : TAUHID DAN MAKRIFAT
Dari
contoh-contoh di atas dapat diringkas sebagai berikut :
Pemahaman/pengertian
benar ==> pikiran benar ==> ucapan
benar ==> perbuatan salah.
Kondisi yang lebih memprihatinkan adalah :
Kondisi yang lebih memprihatinkan adalah :
Pemahaman/pengertian
benar ==> pikiran benar ==> ucapan
salah ==> perbuatan salah.
Tidak tertutup kemungkinan juga :
Tidak tertutup kemungkinan juga :
Pemahaman/pengertian
benar ==> pikiran salah ==> ucapan
salah ==> perbuatan salah.
Dan yang pasti terjadi jika pemahaman/pengertian seseorang tidak benar adalah :
Dan yang pasti terjadi jika pemahaman/pengertian seseorang tidak benar adalah :
Pemahaman/pengertian
salah ==> pikiran salah ==> ucapan
salah ==> perbuatan salah.
Pikiran berlanjut
ke ucapan terus ke perbuatan. Jika rangkaian ini terus dilakukan
dapat membentuk kebiasaan yang
menghasilkan karakter seseorang dan akhirnya menentukan nasibnya.
Marilah
kita mulai menyelaraskan antara pikiran benar, ucapan benar dan perbuatan
benar untuk membentuk kebiasaan benar dalam
membangun karakter yang benar pula sehingga pada
akhirnya kita bisa menuai ‘hasil’ yang baik dan benar
pula dalam semua aspek kehidupan kita.
Sekian Pos Kali Ini, Semoga Bermanfaat
